Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2008

Tentu rokok bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Bahkan yang merokok bukan cuma orang dewasa, orang yang lagi patah hati atau orang yang sedang jaga pos siskamling (hehee...). Bahkan anak - anak yang masih sekolah banyak yang sudah merokok. Bahkan lebih ahli dalam mengenal rasa dari pada awak - awak ini yang sudah berumur...(alamak...)
Jeffrey Wigand, mantan wakil CEO bidang penelitian dan pengembangan Brown & Williamson, perusahaan tembakau di Amerika yang berkantor pusat di Louisville, Kentucky mengklaim B & W menggunakan amonia dalam rokok mereka yang berfungsi untuk memperlancar aliran nikotin dan meningkatkan rasa ketergantungan pada orang yang mengisapnya.

Rokok dan tembakau memang berbahaya untuk kesehatan. Semua orang tahu itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tembakau merupakan faktor kedua penyebab kematian dan faktor keempat yang mencetus penyakit berisiko kematian di dunia.
WHO juga menyatakan tembakau berkaitan erat dengan kemiskinan. Banyak kajian menunjukkan keluarga miskin di negara berpendapatan kapital rendah menghabiskan 10% dari pendapatan mereka untuk tembakau. Artinya, uang keluarga miskin itu untuk membeli makanan serta membayar biaya pendidikan dan kesehatan jadi semakin sedikit. Hal ini juga menimbulkan tingginya angka buta huruf, karena uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membayar pendidikan dihabiskan untuk membeli tembakau. Dampak kemiskinan akibat belanja tembakau di tingkat keluarga ini masih terabaikan oleh para peneliti.
Keprihatinan tersebut mendorong WHO mengusung kampanye "Lingkungan Bebas Asap" dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Seduania tahun ini (31/5). Tujuannya adalah sosialisasi efek-efek berbahaya yang dialami perokok pasif dan pentingnya lingkungan yang 100% bebas asap. Lingkungan bebas asap yang dimaksud adalah rumah dan tempat kerja.
Dalam beberapa dekade lalu, larangan merokok di tempat kerja lebih ditekankan pada masalah keamanan dan keselamatan, terutama untuk mencegah kebakaran dan ledakan yang disulut percikan api rokok. Kemudian sejak tahun 1950-an hingga 1980-an, larangan merokok di tempat kerja mulai diperkenalkan untuk melindungi para pekerja yang rentan terkena asap karena penyakit bawaan seperti asma dan paru-paru. Dalam kurun waktu tersebut larangan merokok diterapkan secara total pada sektor pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat.
Belakangan perhatian mulai bergeser pada lingkungan perumahan. Direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Dr Julie Gerberding menyatakan jutaan anak dan orang dewasa yang tidak merokok memiliki risiko yang tinggi karena rumah mereka tidak dapat dikategorikan sebagai lingkungan yang bebas asap. "Satu-satunya langkah terbaik yang dapat melindungi keluarga mereka (para perokok itu) adalah berhenti merokok."
Hari Tanpa Tembakau Sedunia mulai diperingati sejak tahun 1988, yang disahkan WHO. Peringatan ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat dunia terhadap epidemi tembakau dan mengampanyekan berbagai upaya yang dapat menghindari kematian dan berbagai penyakit yang disebabkan tembakau. Hingga saat ini angka kematian per tahun yang disebabkan tembakau mencapai 3,5 juta jiwa. Perbandingan yang sejajar dengan angka tersebut adalah dua pesawat penuh penumpang bertabrakan setiap hari dan seluruh penumpangnya tewas!
Di Indonesia juga banyak organisasi dan komunitas yang peduli Lingkungan dan kesehatan mengkampanyekan "Lingkungan Bebas Asap". Seperti menyediakan layanan situs www.berhentimerokok.com Pada situs ini berisi cara dan bagaimana membangkitkan motivasi diri agar mengetahui bahaya merokok dan berusaha untuk berhenti merokok.
Anda Pilih Sehat atau Nikmat hanya sesaat?
(LolaKartika)

0 komentar:

 
Template designed by KARTIKA COMPUTER

[tutup]